INTERNASIONAL
Tragedi Feri Terbakar di Filipina Mengakibatkan 5 Tewas dan 87 Penumpang Hilang
Ringkasan Berita
Tragedi maritim hebat mengguncang kawasan wisata dunia di lepas pantai Provinsi Palawan, Filipina. Kapal feri MV June Aster mendadak dilalap si jago merah saat berlayar di perairan Coron pada Rabu (09/09/2026).
JAKARTA, mading.com - Tragedi maritim hebat mengguncang kawasan wisata dunia di lepas pantai Provinsi Palawan, Filipina. Kapal feri MV June Aster mendadak dilalap si jago merah saat berlayar di perairan Coron pada Rabu (09/09/2026). Insiden maut tersebut menelan sedikitnya lima korban jiwa, sementara 87 penumpang lainnya tenggelam dan dinyatakan hilang di tengah lautan.
Berdasarkan manifes resmi, kapal feri tersebut tengah mengangkut total 134 jiwa yang terdiri atas 117 penumpang dan 17 awak kapal. Bencana menerjang saat armada berada di posisi 1,2 mil laut (sekitar 2,2 kilometer) di timur laut Barangay Marcilla. Jarak yang relatif dekat dari daratan tersebut berubah menjadi perangkap maut akibat kobaran api yang dengan cepat melahap seluruh dek kapal.
Juru Bicara Penjaga Pantai Filipina (PCG), Komodor Noemie Cayabyab, mengonfirmasi bahwa tim tanggap darurat baru berhasil menyelamatkan 42 orang dari gulungan ombak. Sebagian besar korban selamat nekat melompat langsung ke laut guna menghindari kepungan asap pekat sebelum akhirnya dievakuasi oleh tim SAR. Seluruh korban yang berhasil dievakuasi langsung mendapatkan penanganan medis darurat di fasilitas kesehatan terdekat.
Hingga Kamis (10/09/2026), armada kapal penyelamat bersama helikopter PCG dikerahkan dalam operasi pencarian dan pertolongan (search and rescue) besar-besaran. Tim penyelamat berpacu dengan waktu dan arus laut yang kencang untuk menyisir radius puluhan mil di sekitar lokasi kejadian. Otoritas setempat mengkhawatirkan jumlah korban meninggal akan terus bertambah mengingat luasnya area sebaran korban di laut lepas.
Pihak otoritas penerbangan dan perhubungan laut Filipina telah menerjunkan tim investigasi independen ke lokasi kejadian untuk mengumpulkan bukti fisik. Penyelidikan intensif terus dilakukan guna menguak pemicu pasti munculnya percikan api yang membumihanguskan kapal feri tersebut. Pihak regulator juga membekukan sementara izin operasional armada sejenis milik operator kapal untuk keperluan evaluasi keselamatan.
Berdasarkan manifes resmi, kapal feri tersebut tengah mengangkut total 134 jiwa yang terdiri atas 117 penumpang dan 17 awak kapal. Bencana menerjang saat armada berada di posisi 1,2 mil laut (sekitar 2,2 kilometer) di timur laut Barangay Marcilla. Jarak yang relatif dekat dari daratan tersebut berubah menjadi perangkap maut akibat kobaran api yang dengan cepat melahap seluruh dek kapal.
Juru Bicara Penjaga Pantai Filipina (PCG), Komodor Noemie Cayabyab, mengonfirmasi bahwa tim tanggap darurat baru berhasil menyelamatkan 42 orang dari gulungan ombak. Sebagian besar korban selamat nekat melompat langsung ke laut guna menghindari kepungan asap pekat sebelum akhirnya dievakuasi oleh tim SAR. Seluruh korban yang berhasil dievakuasi langsung mendapatkan penanganan medis darurat di fasilitas kesehatan terdekat.
Hingga Kamis (10/09/2026), armada kapal penyelamat bersama helikopter PCG dikerahkan dalam operasi pencarian dan pertolongan (search and rescue) besar-besaran. Tim penyelamat berpacu dengan waktu dan arus laut yang kencang untuk menyisir radius puluhan mil di sekitar lokasi kejadian. Otoritas setempat mengkhawatirkan jumlah korban meninggal akan terus bertambah mengingat luasnya area sebaran korban di laut lepas.
Pihak otoritas penerbangan dan perhubungan laut Filipina telah menerjunkan tim investigasi independen ke lokasi kejadian untuk mengumpulkan bukti fisik. Penyelidikan intensif terus dilakukan guna menguak pemicu pasti munculnya percikan api yang membumihanguskan kapal feri tersebut. Pihak regulator juga membekukan sementara izin operasional armada sejenis milik operator kapal untuk keperluan evaluasi keselamatan.